Harga BBM Non Subsidi Naik, Wajar atau Kian Memicu Inflasi?

filename - kabaracehonline.com

Ditengah kondisi ekonomi tak menentu, Covid-19 yang belum berakhir, harga minyak ikut naik.

KABARACEH, BANDA ACEH: Terhitung 3 Maret 2022, jam 00.00 waktu setempat,  harga Pertamax Turbo, Dexlite & Pertamina Dex resmi naik, PT Pertamina (Persero) telah mengumumkan kenaikan tersebut.

Read More

Melansir CNBC Indonesia, kenaikan harga jual BBM ini dilakukan kurang dari sebulan setelah Pertamina mengerek harga bahan bakar minyak jenis serupa. Sebelumnya, kenaikan harga BBM non subsidi dilakukan Pertamina pada 12 Februari lalu.

Harga jual BBM yang dinaikkan Pertamina tidak terjadi untuk BBM subsidi, Premium, Pertalite, dan Pertamax. Berdasarkan data daftar harga BBM non subsidi yang diterbitkan Pertamina, kenaikan harga jual BBM terjadi merata di semua daerah.

Peningkatan harga jual BBM dilakukan Pertamina menggunakan dasar hukum Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Kenaikan harga BBM Pertamina berbeda-beda di setiap wilayah Indonesia, yaitu berkisar Rp 500 hingga Rp 1.100 per liter. Dikutip dari laman Pertamina.com tentang rincian harga BBM Pertamina nonsubsidi terbaru untuk jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex di seluruh SPBU di Indonesia.

Khusus untuk wilayah Aceh, Harga BBM jenis Pertamax Turbo 14.500, Dexlite 12.950, dan Pertamina Dex 13.700. Kenaikan ini adalah kedua kalinya dalam rentang waktu dua Minggu, sebelumnya naik pada 12 Februari 2022.

Meskipun Pertamina menyebutkan akan mengevaluasi harga BBM tiap dua minggu agar mengikuti penyesuaian harga market global dan sesuai dengan ketentuan Kementerian ESDM.

Kenaikan harga BBM Nonsubsidi ini disebut adalah hal yang wajar karena harga minyak mentah di pasar global terus melonjak. Sebagian ahli berpendapat kenaikan tak akan berpengaruh kepada sektor lain.

Namun disisi lain, kenaikan ini tetap dinilai akan ke tetap berpengaruh kepada berbagai sektor ekonomi. Kenaikan harga BBM kerap dikhawatirkan akan menyebabkan kenaikan inflasi. Kenaikan inflasi terjadi karena BBM adalah sektor vital dari sebuah produksi dan transportasi.

Sektor pelaku usaha logistik  yang paling bersentuhan dengan harga BBM. Meskipun umumnya para pelaku usaha logistik menggunakan jenis BBM subsidi seperti solar untuk armada mereka namun, jika terjadi kelangkaan BBM bersubsidi tersebut maka  mereka mau tak mau terpaksa menggunakan non Subsidi. Tentunya akan berdampak kepada ongkos kirim angkutan.

Jika distribusi tak merata, maka sudah dipastikan akan ada efek domino. Artinya, harga BBM yang naik akan menambah biaya angkutan logistik ikut naik, serta biaya komoditi juga ikut naik. Efek domino tersebut dapat menimbulkan inflasi yang cukup berdampak bagi perekonomian.

Apa yang harus dilakukan pemerintah adalah kesiapan langkah antisipatif   untuk menjamin distribusi jangan BBM Bersubsidi tidak terjadi kelangkaan di masyarakat, terutama bila sewaktu-waktu permintaan BBM meningkat. Apalagi sampai BBM Bersubsidi malah dipakai oleh yang tidak berhak menerima!.  (ARS/NET)









Related posts