Rumoh Aceh Kaya akan Ukiran yang Unik

Rumoh Aceh

BANDA ACEH, KABARACEHONLINE.COM: Rumah adat Aceh disebut Rumoh Aceh atau Krong Bade, merupakan rumah panggung kayu yang tinggi, sering dibangun tanpa paku dengan sistem pasak fleksibel, memiliki tiga bagian utama (Seuramoe Keuë, Teungoh, Likôt), ukiran flora yang kaya, dan filosofi kuat untuk menghadapi gempa serta banjir, melambangkan budaya dan identitas masyarakat Aceh yang kuat.

Terdapat jarak antara permukaan tanah dengan lantai dasar. Biasanya jarak lantai dasar dari permukaan tanah terpisah 9 kaki atau lebih. Desain ini memiliki fungsi keselamatan dari gangguan binatang buas dan bencana banjir.

Maksudnya, jika terjadi banjir maka penghuni rumah tidak ikut kebasahan atau pun terbawa arus banjir. Sedangkan bagian pintu dibangun setinggi 120–150 cm, hal tersebut membuat orang yang masuk harus sedikit menunduk ketika memasuki rumah.

Filosofi menunduk ini adalah sebuah bentuk penghormatan kepada pemilik rumah tanpa melihat status sosial atau derajat sang tamu. Konsekuensi dari bentuk rumah yang panggung menyebabkan rumah aceh mempunyai tangga, anak-anak tangganya sengaja berjumlah ganjil.

Menurut adat Aceh, angka ganjil bersifat unik dan sulit ditebak.

Rumoh Acèh (dalam bahasa Aceh) merupakan rumah adat khas suku Aceh. Rumah ini bertipe rumah panggung dengan 3 bagan utama dan 1 bagian tambahan.

Tiga bagian utama dari rumah Aceh yaitu seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah) dan seuramoë likôt (serambi belakang). Sedangkan 1 bagian tambahannya yaitu rumoh dapu (rumah dapur). Atap rumah berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka keluarga.

Rumoh aceh dipercaya sudah ada sejak tanah Aceh dipimpin oleh raja. Melansir Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) rumoh aceh dulunya bukan dikenal sebagai rumah adat.

Hal ini karena setiap masyarakat Aceh memiliki rumah yang bentuknya nyaris sama dengan rumoh aceh yang dikenal saat ini. Rumah tinggal dari pahlawan nasional seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia juga merupakan rumoh aceh.

Bagi suku Aceh, segala sesuatu yang akan mereka lakukan, selalu berlandaskan kitab adat. Kitab adat tersebut dikenal dengan Meukeuta Alam. Salah satu isi di dalam terdapat tentang pendirian rumah. Di dalam kitab adat menyebutkan: ”Tiap-tiap rakyat mendirikan rumah atau masjid atau balai-balai atau meunasah pada tiap-tiap tiang di atas itu hendaklah dipakai kain merah dan putih sedikit”.

Kain merah putih yang dibuat khusus di saat memulai pekerjaan itu dililitkan di atas tiang utama yang di sebut tamèh raja dan tamèh putroë”. Oleh karenanya terlihat bahwa Suku Aceh bukanlah suatu suku yang melupakan apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka

Dalam kitab tersebut juga dipaparkan bahwa; dalam Rumoh Aceh, bagian rumah dan pekarangannya menjadi milik anak-anak perempuan atau ibunya. Menurut adat Aceh, rumah dan pekarangannya tidak boleh di pra-é, atau dibelokkan dari hukum waris. Jika seorang suami meninggal dunia, maka Rumoh Aceh itu menjadi milik anak-anak perempuan atau menjadi milik isterinya bila mereka tidak mempunyai anak perempuan.Untuk itu, dalam Rumah Adat Aceh, istilah yang dinamakan peurumoh, atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah orang yang memiliki rumah.

Ukiran pada Rumoh Aceh

Material

Rumoh Aceh bermaterial kayu pilihan. Kayu tersebut digunakan sebagai tiang-tiang penyangga rumah yang berjumlah 16, 24 atau 32 tiang. 16 tiang untuk rumah bertipe 3 ruangan, 24 tiang untuk rumah bertipe 5 ruangan dan 32 tiang untuk rumah bertipe 7 ruangan. Sedangkan dinding rumah bermaterial papan keras yang dilengkapi ukiran khas Aceh. Begitu juga dengan alas rumah yang terbuat dari papan, papan-papan tersebut hanya disematkan begitu saja tanpa dipaku sehingga mudah dilepas dan memudahkan ketika pemandian jenazah karena air tumpah langsung ke tanah.

Adapun atap bermaterial daun rumbia. Daun rumbia bersifat ringan dan memberikan efek sejuk kepada rumah, selain itu struktur anyaman yang ditali dapat dipotong dengan mudah jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran. Dalam memperkuat bangunan rumah aceh tidak menggunakan paku, melainkan memakai pasak atau pengikat dari tali rotan.

Tidak diketahui pasti sejak kapan Rumoh Aceh dibuat oleh orang Aceh, namun keberadaan Rumoh Aceh pernah diungkapkan oleh Siegel (1979: 147) yang terkait dengan ukirannya setelah membaca Hikayat Peoecoeat Moehamat, yang menyebutkan bahwa menjelang abad ke-18 semakin banyak rumah adat Aceh dihiasi dengan corak-corak ukir.

Fungsi dan Filosofi

Rumah Aceh tidak hanya berfungsi sebagai hunian. Tetapi juga mencerminkan keyakinan kepada Tuhan. Hal tersebut terlihat dari bangunan rumah yang berbentuk segi empat dan memanjang dari timur ke barat membentuk garis imajiner ke Ka’bah. Bagian sisi rumah yang menghadap barat dan timur pun berfungsi mengantisipasi badai. Hal ini karena angin badai di Aceh jika tidak bertiup dari barat, maka akan bertiup dari Timur.

Fungsi lainnya rumah aceh adalah menunjukan status sosial pemiliknya. Semakin banyak hiasan maka semakin kaya pemiliknya. Sedangkan untuk pemilik yang sederhana hiasannya relatif sedikit bahkan tidak ada sama sekali.

Rumah yang berbentuk panggung menyebabkan terdapat jarak antara permukaan tanah dengan lantai dasar. Biasanya jarak lantai dasar dari permukaan tanah terpisah 9 kaki atau lebih. Desain ini memiliki fungsi keselamatan dari gangguan binatang buas dan bencana banjir.

Maksudnya, jika terjadi banjir maka penghuni rumah tidak ikut kebasahan atau pun terbawa arus banjir. Sedangkan bagian pintu dibangun setinggi 120–150 cm, hal tersebut membuat orang yang masuk harus sedikit menunduk ketika memasuki rumah.

Filosofi menunduk ini adalah sebuah bentuk penghormatan kepada pemilik rumah tanpa melihat status sosial atau derajat sang tamu. Konsekuensi dari bentuk rumah yang panggung menyebabkan rumah aceh mempunyai tangga, anak-anak tangganya sengaja berjumlah ganjil. Menurut adat Aceh, angka ganjil bersifat unik dan sulit ditebak.

Kamel Ishak wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Banda Aceh mengatakan rumah Aceh sangat unik dan mempuyai khas tersendiri di bandingkan rumah adat lainya.

“Rumah panggung dengan ukiran yang sangat menarik adanya bunga-bunga yang terdapat di Aceh,” ungkapnya dengan dialek bahasa melayunya.

“Terutama warna kuning hampir di seluruh kerajaan yang terdapat di nusantara menggunakan warna kuning sebagai warna kebanggaan kerajaan. Seperti Melaka di Malaysia ,” katanya .

Ciri-ciri Utama Rumoh Aceh:
Tipe Panggung: Dibangun tinggi di atas tiang kayu untuk melindungi dari banjir dan hewan buas.

Struktur Tanpa Paku: Menggunakan sistem sambungan pasak yang kuat, membuat rumah lebih tahan gempa.

Tiga Bagian Utama:
Seuramoe Keuë (Serambi Depan): Tempat menerima tamu, santai, dan belajar.
Seuramoe Teungoh (Serambi Tengah): Ruang inti keluarga, lantainya lebih tinggi.
Seuramoe Likôt (Serambi Belakang): Dapur, tempat makan keluarga, lantainya lebih rendah.

Yubmoh (Ruang Bawah): Kolong rumah untuk menyimpan barang, tempat menumbuk padi, atau tempat bermain anak.

Ornamen Ukiran: Hiasan ukiran kayu motif flora (tumbuhan) yang indah pada dinding, pintu, dan tiang, menggunakan warna alami seperti merah, kuning, hijau, hitam, coklat.
Atap: Berbentuk atap pelana atau limas yang tinggi dengan ukiran pada ujung-ujungnya.

Filosofi dan Fungsi:
Mencerminkan budaya masyarakat Aceh yang religius, egaliter, dan berjiwa seni.
Dirancang fungsional untuk iklim tropis, sirkulasi udara baik, dan perlindungan bencana alam. []

KABAR LAINNYA
KABAR TERKINI
KABAR FOKUS