Kenduri Laut; Wujud Rasa Syukur Nilai Islami dan Menjaga Kelestarian Lingkungan

BANDA ACEH, KABARACEHONLINE.COM: Kenduri Laut atau sering disebut dengan Adat Laut merupakan tradisi masyarakat pesisir di Provinsi Aceh.

Peringatan Kenduri Laut yang dilaksanakan pada setiap tahun, berfungsi untuk memperkuat eksistensi Lembaga Hukum Adat Panglima Laut.

Kenduri Laut merupakan upacara menjelang musim timur atau ketika musim barat akan berakhir dan kenduri laot rutin dilaksanakan setiap tahun pada setiap desa pantai yang merupakan wilayah Panglima Laut, maupun di kabupaten.

Kenduri laut bagi masyarakat nelayan merupakan sebuah perwujudan rasa syukur, hubungan antara manusia sebagai makhluk ciptaan dengan Sang penciptanya dan menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya dalam menghadapi lingkungan setempat

Kenduri laut ini dilangsungkan dengan menggalang iuran dari para nelayan sesuai kemampuan. Besarnya sumbangan itu ditentukan melalui musyawarah yang melibatkan warga. Musyawarah itu juga menentukan jadwal pelaksanaan kenduri.
Peringatan Kenduri Laut yang dilaksanakan pada setiap tahun, berfungsi untuk memperkuat eksistensi Lembaga Hukum Adat Panglima Laut

Yang paling utama dalam upacara kenduri laut dimulai dengan tahap persiapan. Dalam tahap ini dipersiapkan antara lain berbagai persajian makanan yang diperuntukkan untuk tamu-tamu juga warga masyarakat yang mengikuti upacara. Selain itu juga dipersiapkan perlengkapan peusijuk sebagai prosesi utama pelaksanaan upacara kenduri laot dan juga perahu sebagai pengangkut sesaji yang akan dibawa ke tengah laut.

Setelah berbagai keperluan yang digunakan untuk prosesi upacara tersedia, maka tahap berikutnya yaitu pelaksanaan upacara. Dalam pelaksanaannya upacara kenduri laot memiliki perbedaan-perbedaan pada daerah yang melaksanakannya baik mengenai waktu ataupun ritual didalamnya, namun pada intinya sama.

Daging lembu yang telah selesai disembelih kemudian dimasak. Semua masakan baik daging lembu maupun makanan lainnya tidak dibenarkan dimakan sebelum ada perintah dari panglima laot dan panitia. Setelah daging dan nasi dimasak sebagian langsung dipisahkan, untuk dinaikkan ke perahu bersama-sama dengan orang-orang yang membaca doa. Sisa dari lembu yang tidak dimasak seperti isi perut dimasukkan kembali dalam kulit lembu dan dijahit seperti semula.

Perahu yang membawa rombongan berangkat menuju ke tengah laut dengan membawa sesaji berupa kepala lembu dan isi perut serta tulang untuk dibuang ke tengah laut. Setelah sampai ditengah laut kemudian kapal yang membawa sesaji tersebut berhenti dan menurunkan sesaji yang dibawa tersebut dan dilanjutkan dengan membaca doa-doa keselamatan dan doa syukur.

Panglima Laot Lamteungoh, Peukanbada, Kabupaten Aceh Besar, Baharuddin mengatakan, Khanduri Laot merupakan budaya yang harus dilestarikan dengan baik karena ini salah satu budaya yang masih tinggal di Aceh.

“Khanduri Laot merupakan bentuk rasa syukur nelayan kepada Allah SWT yang telah memberikan rezeki berupa hasil tangkapan ikan. Proses pelaksanaan Khanduri Laot dilakukan tidak menentu, karena tergantung banyaknya kemudahan yang didapatkan nelayan,” katanya.

“Untuk waktunya ini bisa dilaksanakan tiga bulan sekali maupun setahun sekali, Biasanya kalau nelayan sudah makmur dan bersepakat, mereka langsung melakukan kenduri,”sebutnya.

Mengikat silaturahim

Khanduri laot biasanya dilakukan oleh setiap Lhok (setingkat Kecamatan – red) yang bertujuan mengikat silaturahami dan membina kekompakan antar pelaut dan masyarakat pesisir.

Budaya khanduri laot telah ada sejak zaman nenek moyang, namun ia tidak mengetahui kepastian adanya budaya tersebut. Selama khanduri laot ini berlangsung, para nelayan dilarang melaut selama tiga hari

Budaya khanduri laot telah dilakukan secara turun-temurun oleh nelayan Aceh, namun bedanya sekarang dalam pelaksanaanya para nelayan tidak lagi melemparkan kepala kerbau ke laut. Budaya khanduri laot merupakan salah satu budaya penting dan perlu untuk dilestarikan karena kenduri ini hanya ada satu-satunya di Aceh.

Budaya khanduri laot memiliki banyak mamfaatnya dibandingkan mudharatnya. Budaya khanduri laot, kata dia sesudah dan sebelum tsunami terdapat perbedaan akibat transformasi budaya. Sebelumnya, setiap ada khanduri laot kepala kerbau dilemparkan ke laut, namun sekarang sudah banyak tidak melakukan lagi, tapi yang terpenting kenduri ini sebagai bagian bersyukur kepada sang pencipta yang telah banyak memberikan rizekinya.

Makna dan Tujuan
Rasa Syukur: Ungkapan terima kasih kepada Allah SWT atas rezeki laut, yang kini juga menjadi daya tarik wisata.

Silaturahmi: Mempererat kebersamaan antar nelayan dan masyarakat pesisir.

Pelestarian Adat: Menjaga tradisi turun-temurun yang dipimpin oleh Panglima Laot, sebuah lembaga adat penting di Aceh.

Prosesi Utama
Makan Bersama: Hidangan utama dari daging kerbau (bukan sapi/kambing) dimasak dan disantap bersama seluruh warga, biasanya di meunasah.

Doa & Santunan: Memanjatkan doa keselamatan dan kesejahteraan, serta memberikan santunan kepada anak yatim.
Pelepasan Sesajen ke Laut: Kepala kerbau, isi perut, dan tulang dibawa dengan perahu ke tengah laut untuk dibuang sebagai simbol sedekah laut dan doa keselamatan, sebelum diikuti rombongan lain.

Waktu Pelaksanaan
Umumnya diadakan setahun sekali, sering bertepatan dengan peringatan hari besar Islam seperti Isra Mi’raj atau tanggal tertentu yang ditetapkan Panglima Laot.

Nilai Penting
Hubungan Manusia dan Alam: Mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam agar rezeki laut terus tersedia.

Kearifan Lokal: Menjadi warisan budaya yang menggabungkan nilai Islami dan adat istiadat setempat. []

KABAR LAINNYA
KABAR TERKINI
KABAR FOKUS