Jangan Ada Kata Tapi untuk Percepat Turunkan Stunting Tertinggi di Gayo Lues

filename - kabaracehonline.com

KABARACEH, BLANGKEJEREN: Kabupaten Gayo Lues merupakan satu dari 23 Kabupaten/kota di Provinsi Aceh dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi pertama. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, prevalensi stunting di daerah yang dikenal sebagai Negeri 1000 Bukit ini mencapai 42,9 persen dan jauh di atas prevalensi stunting Provinsi Aceh yang berada pada prevalensi 33,2 persen.

Prevalensi 42,9 persen ini artinya dari 100 balita di Gayo Lues, sebanyak 43 adalah stunting. Karena itu berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dengan didukung berbagai pihak untuk percepatan penurunan stunting di wilayah yang memiliki 11 kecamatan dan 143 desa.

“Jangan ada kata tapi tapi lagi. Terus gerak cepat dan terkoordinir, agar kasus stunting di daerah kita ini cepat turun,” kata Pejabat (Pj) Bupati Gayo Lues Rasyidin Porang saat membuka Diseminasi Audit Kasus Stunting tahun 2022 di Op Room Sekretariat Daerah Kabupaten, Kamis (20/10/2022) di Kota Blangkejeren.

Karena itu Rasyidin tegas meminta lintas sektor serius dan cepat mengintervensi penanganan stunting dan berkoordinasi dengan para pakar dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di kabupaten.

Selanjutnya dalam kegiatan yang ditaja Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) itu, Rasyidin berharap semua pihak dalam menyelesaikan persoalan stunting di Gayo Lues, perlu serumpun.

“Jangan sampai ada data yang berbeda-beda. Dan intervensi yang dilakukan tepat dan cepat. Kalau perlu kita mencontoh Bener Meriah. Tidak ada salahnya mencontoh hal yang baik. Terkait data, kalau data saja berbeda-beda, kita akan bingung menentukan mana prioritas dan intervensi yang perlu dilakukan,” kata Rasyidin yang sebelumnya adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Gayo Lues ini di depan Camat, Pengulu (kepala desa/keuchik), para pakar, anggota Komisi D DPRK Gayo Lues, IBI, TP PKK, TNI, dan Polri.

Dari aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (e-PPGBM) bulan September sasaran baduta/balita di Gayo Lues sebanyak 8.550 anak yang terinput 5.795 dengan jumlah stunting sebesar 494 kasus. Data ini didapatkan dari 12 Puskesmas yang ada di Kabupaten Gayo Lues.

Terkait data, Kepala Perwakilan BKKBN Aceh Sahidal Kastri mengatakan pentingnya validasi data sehingga hasilnya akurat. Syahidal juga meminta perlunya pendampingan terjadap enumerator (pewawancara) saat survei.

“Supaya ketika hasil survey SSGI tahun 2022 keluar nanti, jangan ada lagi ketidak puasan dengan hasil survei SSGI,” kata Sahidal.

Menurut Sahidal, penyebab stunting tidak saja soal kurangnya gizi, tetapi juga banyak indikator penyebab lainnya. Untuk itu saran Sahidal, agar Tim PPS Gayo Lues, mencari akar permasalahan stunting di wilayahnya, sehingga mengetahui upaya apa yang tepat dilakukan, guna pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

“Kami ingin menyampaikan ketika melakukan intervensi kita harus tau dulu Perpres Nomor 72 Tahun 2021. Di dalam Perpres, ada dua intervensi yang dilakukan yaitu spesifik dan sensentif. Ketika akar permasalah sudah diketahui, maka kita akan mengetahui intervensi apa yang prioritas dilakukan,” jelasnya.

Setiap desa sasaran memiliki akar permasalahan stunting yang berbeda-beda. Dan intervensi yang dilakukan juga pasti berbeda pula. Untuk itu kata Sahidal, perlu dilakukan audit stunting.

Selanjutanya, Sahidal mengatakan, Indikator terjadinya stunting, terkait erat dengan jarak kelahiran, pernikahan usia muda, rendahnya pemberian ASI, sanitasi yang buruk, gizi kronis, dan penyebab lainnya.

Plt. Sekretaris Daerah Gayo Lues Irwansyah yang juga merupakan Ketua Tim PPS mengatakan Gayo Lues perlu mencontoh daerah-daerah lain dan juga mengadopsi program percepatan penurunan stunting.

Irwansyah menyebutkan program Bapak Asuh Anak Stunting. “Setiap Kepala SKPK memiliki satu anak asuh stunting. Juga bersama MPU dan Kemenag, melakukan khutbah Jum’at terkait stunting. Juga strategi lainya, secara terus menerus melakukan sosialisasi hidup bersih dan sehat, 1000 HPK, dan hal lain penyebab stunting,” kata Irwansyah.

Kepala Dinas P3AP2KB Gayo Lues Yunidar menyebutkan salah satu faktor utama stunting di Gayo Lues adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga asupan gizi dan kesehatan lingkungan.

Berdarsarkan obeservasi lapangan katanya, risiko stunting di Gayo Lues cukup tinggi. Banyak masyarakat yang menolak membangun WC di rumah, akibat masih rendahnya kesadaran terkait pola hidup bersih dan sehat.

Komandan Kodim (Dandim) 0113/Galus Letkol Inf Krismanto, S.Pd, bahwa dalam rangka menciptakan ketahanan pangan dan pencanangan masyarakat Gayo Lues bebas Stunting, pihaknya telah membuat Rumah Pakan Lestari (RPL) yang berlokasi di Komplek Asrama Kodim, Kota Blangkejeren. Program ini diharapkan dapat mencukupi kebutuhan pokok dan menciptakan ketahanan pangan skala rumah tangga.

“Dua bulan lagi akan panen, nanti pas panen akan kita serahkan kepada TP PKK dan ibu Persit untuk didistribusikan kepada keluarga berisiko stunting dan masyarakat lainnya,” kata Dandim.

Tim pakar dr. Khairina Fitriani yang juga merupaka Kepala Puskesmas Kutapanjang, memaparkan hasil audit yang telah dilakukan pihaknya. Ia mengatakan, sumber data yang digunakan dari e-PPGBM, Aplikasi Elsimil, Aplikasi Semoga Bereh, dan PK 21.

Hasil audit yang dilakukan, menurut dr. Khairina, ada suami istri berisiko stunting yang menikah usia muda. Perempuan berusia 18 tahun dan pria berusia 19 tahun dan kini istri sedang hamil.

“Kami terus memantau perkembangannya, bobot berat badannya sudah naik lima kilogram dari 47 kilogram,” ungkapnya terkait intervensi yang telah dilakukan pihaknya.

Mendengarkan hal itu, Kepala Perwakilan BKKBN Aceh bersama Tim PPS, selesai Desiminasi Audit Kasus Stunting, langsung menuju ke lokasi dan bertemu dengan pasangan suami istri yang masih berusia muda tersebut. Kaper Sahidal dalam pertemuan itu melihat kondisi rumah dengan sanitasi yang tidak sehat. Kemudian, mensosialisasikan bahayanya melahirkan anak stunting kepada pasangan berusia muda dari keluarga berisiko stunting tersebut. (D/REL)

Related posts