Menghadang Covid-19 dan Gairah Ekonomi Ditengah Situasi Sulit

Picture of KABAR ACEH
KABAR ACEH
Int

Covid-19 belum juga berakhir, setelah meluluhlantakan sendi-sendi masyarakat dunia, kini muncul lagi varian baru yang disebut-sebut lebih ganas. Ekonomi yang sempat berdenyut kembali, kini kembali dibayang-bayangi ancaman gelombang Covid-19. Harapan tak boleh sirna, semangat mesti terus dipacu untuk bangkit dari situasi sulit.

Hantaman wabah Pandemi mau tak mau harus dihadapi oleh semua pihak, tak hanya pemerintah namun semua elemen bangsa. Pemerintah sendiri menyebutkan terus berupaya mengenjot pemulihan ekonomi. Laporan 31 April 2021 menunjukkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah terealisasi sebesar, Rp155,6 triliun atau sebesar 22,3% dari pagu Rp699,43 triliun. Penyerapan PEN ini dinilai mampu memperbaiki ekonomi yang melemah akibat pandemi.

Kunta Wibawa, Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kemenkeu RI, menyebutkan, Indikator-indikator makro ekonomi menunjukkan bahwa sudah ada pemulihan “Kita menyadari bahwa stimulus yang kita gelontorkan itu memang mengenai sasaran,” terangnya”jelasnya.

Disebutkan,  Pemerintah tidak hanya menggelontorkan dana dukungan dari sisi permintaan masyarakat tapi juga membuka keran permintaan termasuk mendukung pembiayaan bagi UMKM.“Dari sisi pembiayaan UMKM, pemerintah memberikan stimulus subsidi bunga kredit, dengan begitu mereka bisa berusaha kembali, arus kasnya tidak terganggu, kita juga mendorong dari sisi permintaan supaya masyarakat belanja,” terang Kunta Wibawa.

Diterangkan, dengan target seperti ini menunjukkan stimulus program PEN sudah sesuai dan mencapai targetnya. Hal inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju ke 0% dari posisi minus.Pemerintah berharap pada kuartal 2 2021 nanti, pertumbuhan ekonomi akan jauh lebih baik.

“Memang, pekerjaan rumah kita nanti di kuartal 2, kita juga terus akan mendorong percepatan dari belanja dan belanja ini tidak hanya belanja PEN, tapi belanja dari Kementerian/Lembaga,” jelas Kunta Wibawa.

Pernyataan Kunta Wibawa ini didukung juga oleh Piter Abdullah, Research Director CORE Indonesia. Ia menjelaskan jika dibandingkan dengan tahun lalu,  ditahun ini  pencapaian dalam hal penyerapan anggaran PEN jauh lebih baik.” Memang Pemerintah sudah sejak awal pandemi, memang fokus sekali dengan realisasi-realisasi anggaran PEN,” ujarnya.

Pemerintah, lanjutnya, berupaya meningkatkan konsumsi. Terlebih lagi bukan hanya stimulus dalam bentuk bantuan sosial, ada juga stimulus pelonggaran PPnBM, stimulus PPN, itu adalah upaya meningkatkan demand, mendorong kelompok masyarakat kelas menengah atas untuk berbelanja,

 “Masyarakat kelas menengah atas sudah kembali berbelanja. Selama ini mereka simpan di perbankan,” kata Piter.

Kunta Wibawa, memperkirakan Pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 akan meningkat sekitar 4,5% – 5,3%, “Peningkatan 7% diperkirakan akan terjadi pada kuartal 2 2021. Kita melihat indikator-indikator yang menunjukkan bahwa pemulihan itu terjadi dan kita konsisten untuk terus mendukung pemulihan ekonomi,” jelas Kunta Wibawa.

Pemulihan ekonomi dan Pengendalian Covid-19

Tak ada pilihan lain, pemulihan ekonomi mesti didukung oleh pengendalian Covid-19. Semua pihak harus dihimbau untuk menjaga protokol kesehatan. Berdasarkan data dari Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional,  Perkembangan pasien sembuh per 17 Mei 2021, jumlahnya sudah melebihi angka 1,5 juta orang atau angka tepatnya bertambah menjadi 1.606.611 orang dengan persentasenya di angka 92,1%. Angka kesembuhan kumulatif ini meningkat dengan adanya penambahan pasien sembuh harian sebanyak 5.754 orang.

Sementara, pada perkembangan program vaksinasi Covid-19 per 17 Mei 2021, jumlah penerimanya melebihi 13 juta orang atau angka tepatnya 13.803.055 orang. Peningkatan ini dengan adanya tambahan penerima vaksin harian sebanyak 65.459 orang. Sedangkan yang menerima vaksinasi kedua jumlahnya meningkat menjadi 9.066.982 orang. Untuk target sasaran vaksinasi berjumlah 40.349.049 orang.

Selain itu, dari hasil uji per hari jejaring laboratorium berbagai wilayah, spesimen selesai diperiksa RT-PCR/TCM dan rapid antigen per hari sebanyak 45.653 spesimen dan kumulatifnya 15.552.687 spesimen. Sementara jumlah kumulatif spesimen positif per 17 Mei 2021, sebanyak 3.086.634 spesimen. Jumlah kumulatif spesimen negatif sebanyak 10.800.552 spesimen. Positivity rate spesimen harian di angka 16,50% dan positivity rate spesimen mingguan (9 – 15 Mei 2021) di angka 18,86%. Sementara spesimen invalid dan inkonklusiv (per hari) berjumlah 92 spesimen.

Untuk jumlah orang yang diperiksa per 17 Mei 2021, ada 36.988 orang dan kumulatifnya 10.409.178 orang. Lalu pada hasil terkonfirmasi negatif jumlah kumulatifnya meningkat menjadi 8.702.121 orang termasuk tambahan hari ini sebanyak 32.693 orang. Sementara positivity rate orang harian di angka 11,61% dan positivity rate orang mingguan (9 – 15 Mei 2021) di angka 13,05%. Untuk jumlah suspek tercatat ada 81.809 kasus. Dan sebaran wilayah masih berada di 34 provinsi dan 510 kabupaten/kota.

Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Raden Pardede, mengungkapkan pemerintah tak ingin kejadian di India menimpa Indonesia.  Untuk itu, dia meminta masyarakat mengerti terhadap kebijakan  yang diambil pemerintah, termasuk memperpanjang PPKM mikro.

“Ini adalah dalam rangka melindungi kesehatan yang utama. Kalau kesehatan kita tidak terlindungi, bagaimana kita bicara ekonomi? Jadi kesehatan yang terlindungi tadi itu yang membangkitkan optimisme”jelasnya, dalam sebuah dialog.

Raden Pardede meyakinkan, jika target vaksinasi bisa optimal dan penyebaran Covid-19 bisa dikendalikan, nantinya bisa mendorong optimisme bahwa ekonomi juga kian membaik.”Dengan cara seperti itu kita harapkan pemulihan ekonomi kita akan baik, karena antara optimisme kemudian mereka mau berbelanja, mereka mau berinvestasi, itulah yang menggerakan ekonomi,” jelasnya Raden.

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, di acara Vaksinasi Covid-19 Gotong Royong untuk Pekerja yang dipusatkan di pabrik PT Unilever Indonesia yang berada di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mengatakan pemerintah bersama sektor swasta pada Selasa, 18 Mei 2021, memulai kolaborasi untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 melalui program Vaksinasi Gotong Royong untuk Pekerja.

 Langkah ini sebutnya merupakan terobosan terbaik yang dilaksanakan pemerintah bersama sektor swasta untuk menjaga keseimbangan penanganan di sisi kesehatan dan menggerakkan perekonomian bangsa.

Tanpa terputusnya mata rantai Covid-19 ini pertumbuhan ekonomi akan selalu terganjal. ini adalah terobosan terbaik yang dilaksanakan pemerintah Indonesia bersama-sama dengan sektor swasta untuk menggerakkan perekonomian bangsa,” ujarnya.

Senada dengan itu, Managing Director IPSOS in Indonesia Soeprapto Tan, ia menyebutkan ada temuan optimisme masyarakat Indonesia mencapai 76 persen bahwa ekonomi akan segera membaik.  Artinya dengan optimisme yang mulai meningkat, belanja masyarakat juga mulai merambah ke travel atau jalan-jalan. Begitu juga restoran dan kafe juga presentasi negatifnya juga semakin kecil yang menandakan masyarakat tidak berdiam diri di rumah. “Kondisinya sudah jauh membaik,” ujar Soeprapto.

Tantangannya,  agar kondisi semakin membaik, Indonesia mesti menjaga  jangan sampai apa yang terjadi di negara lain terjadi juga di Indonesia. Peran ini, tak hanya peran Pemerintah atau pejabat pemangku kebijakan, namun lebih dari itu, juga melibatkan semua pihak, masyarakat disegala lapisan. (Arsadi Laksamana)

KABAR LAINNYA
KABAR TERKINI