
BANDA ACEH, KABARACEHONLINE.COM: Meugang adalah tradisi khas masyarakat Aceh yang berupa memasak dan menikmati hidangan daging bersama keluarga dan kerabat, yang biasanya dilakukan 1-2 hari menjelang bulan suci Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha.
Tradisi ini melibatkan pemotongan sapi atau kambing, dengan sebagian masyarakat membeli daging dari pasar untuk memenuhi tradisi ini, yang juga berfungsi sebagai bentuk rasa syukur dan untuk menyambut hari-hari besar keagamaan.
Makmeugang diawali pada masa kerajaan Aceh dengan memotong hewan dalam jumlah yang banyak dan dibagikan secara gratis kepada msyarakat, hal ini dilakukan sebagai rasa syukur dan terimakasih atas kemakmuran Aceh, saat ini tradisi makmeugang terus dilakukan oleh masyarakat seluruh Aceh dalam menyambut hari-hari besar suci umat islam.
Masayarakat Aceh umumnya sedang melaksanakan atau memeriahkan hari makmeugang. Yaitu sebuah tradisi yang unik ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Salah satu tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut bulan puasa adalah melaksanakan pemotongan hewan pada satu atau dua hari sebelum bulan puasa.
Tradisi pemotongan hewan ini dalam Masyarakat Aceh dikenal sebagai meugang atau makmeugang. “Meugang” merupakan hari yang dirayakan dengan cara memasak dan menyantap daging bersama-sama dengan keluarga, yang dilakukan sehari menjelang bulan puasa. Hari tersebut merupakan waktu yang dimanfaatkan oleh keluarga di Aceh sebagai waktu berkumpul dan makan bersama. Bahkan, tidak jarang juga keluarga di Aceh yang mengundang anak yatim untuk menikmati kebersamaan hari Meugang ini.
Meugang dianggap punya nilai religius karena dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam. Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan dianggap bulan untuk menyucikan diri. Masyarakat Aceh memegang teguh kepercayaan bahwa nafkah yang telah dicari 11 bulan dinikmati selama Ramadhan sambil beribadah. Menurut kisah, pada awalnya meugang itu dilakukan pada masa Kerajaan Aceh.
Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya dan juga untuk merayakan datangnya bulan suci Ramadhan. Setelah Kerajaan Aceh dikalahkan oleh penjajah Belanda, masyarakat Aceh berinisiatif sendiri untuk melakukan pemotongan sapi guna memeriahkan hari Meugang, sehingga tradisi ini tetap mengakar kuat di tengah masyarakat Aceh sampai hari ini.
Meugang sebenarnya juga memiliki sisi negatif. Meugang kini menjadi sebuah tradisi yang mengagungkan kemampuan ekonomi bagi masyarakat Aceh. Untuk para pria di Aceh, Meugang merupakan pembuktian bahwa dirinya adalah benar-benar seorang laki-laki. Bukan lelaki Aceh namanya bila tak mampu membeli daging pada hari Meugang. Semakin banyak daging yang mampu dibawa pulang, maka semakin tinggilah harga diri seorang pria di mata masyarakat.
Untuk pengantin baru, Meugang juga digunakan sebagai ajang pembuktian harga diri. Jika sang suami tak mampu membawa pulang daging sebanyak minimal 5 kilogram, maka oleh mertuanya ia akan dianggap sebagai lelaki yang tidak mampu dan tak punya rasa malu. Bahkan seringkali hal ini akan menjadi bahan gunjingan para tetangga, walau sebenarnya sang mertua tidak pernah mempersalahkan hal tersebut. Bahkan, jika ia berada di daerah yang masih sangat kental adatnya, sang pria itu bisa jadi tidak diterima lagi sebagai menantu.
Sehingga wajar bila kemudian harga daging di Aceh pada hari Meugang meroket tajam mencapai ratusan ribu rupiah. Padahal pada hari biasa, harga daging hanya berkisar antara Rp. 70-80 ribu per kilogram. Sehingga mereka yang termasuk kelompok ekonomi lemah akan mencari berbagai cara untuk dapat membawa pulang daging Meugang ke rumah, termasuk dengan cara berhutang.
Simbolisasi kemakmuran ini telah menjadikan jurang pemisah yang lebar antara si kaya dan si miskin. Meskipun demikian, Meugang tetaplah sebuah tradisi masyarakat Aceh yang perlu dijaga. Hanya saja perlu cara pandang yang berbeda terhadap hari spesial itu.
Secara garis besar Meugang itu dapat dikatakan sebagai tanda atau bentuk syukur untuk menyambut bulan Ramadhan. Zaman dahulu belum ada alat komunikasi untuk menyampaikan dan menandakan kapan datangnya Ramadhan. Sekarang sudah ada pemberitahuan dari pemerintah dan para ulama bahkan ada lembaganya sendiri yang mengatur ketentuan datangnya Ramadhan setelah melihat bulan. sedangkan Makna lain adalah bahwa ada beberapa elemen lain yang terkandung dalam perayaan Meugang, menjelang masuknya bulan penuh Rahmat ini, yaitu dilaksanakan secara kekeluargaan.
Contohnya, jika ada anak atau menantu yang jauh, dia akan pulang sehari sebelum Meugang. Konsepnya lebih kepada silahturrahmi. Jadi, tidak ada dosa lagi, sudah dihapus semuanya dengan saling meminta maaf dan memaafkan “Insha Allah”. Selain itu Meugang juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ada solidaritas di sana. Selanjutnya, nilai solidaritas dari membangun rasa kebersamaan dengan makan bersama, dan ada rasa cemas jika salah satu anggota keluarga belum berkumpul di rumah. Selain itu Meugang bermakna ekonomi, sosial juga ritual

Tradisi sosial dan budaya:
Merupakan ajang silaturahmi dan gotong royong antar warga. Daging yang telah dimasak sering dibagikan kepada tetangga dan kerabat.
Tradisi ini juga mempengaruhi kondisi ekonomi karena tingginya permintaan daging pada hari-hari meugang.
Asal-usul:
Berasal dari masa Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).
Awalnya, tradisi ini dimulai dengan menyembelih hewan dalam jumlah besar dan membagikan dagingnya secara gratis kepada masyarakat, terutama kaum dhuafa, sebagai wujud syukur atas kemakmuran negeri.
Kegiatan saat meugang:
Masyarakat berduyun-duyun mendatangi pasar untuk membeli daging.
Daging kemudian diolah menjadi berbagai masakan khas Aceh, seperti daging kuah beulangong, sate matang, rendang, kari, atau sie reuboh (daging yang dimasak dengan cuka).
Makna religius:
Dilihat sebagai ekspresi kegembiraan dan bentuk syukur menyambut bulan Ramadhan dan hari raya besar lainnya.
Dipraktikkan sebagai bagian dari nilai-nilai agama Islam, di mana rasa senang menyambut bulan suci dikaitkan dengan pahala.
Adi Surya warga Jakarta yang mempunyai istri asal Aceh merasakan hal yang berbeda saat berada di Banda Aceh di bulan puasa.
“Suasananya sungguh sangat bermakna dan berbeda dengan saya rasakan saat berada di Jakarta ,” sebut dia.
Adi menambahkan saat itu perbedaan suasana lebih dapat alias benar – benar mempuyai ciri khas tersendiri dibdingakan dengan daerah lain.
“Memasak daging dengan varian bumbu bumbu rempah yang menggugah selera dan sebagai tanda atau bentuk syukur untuk menyambut bulan Ramadhan,” tutupnya. []











