Benteng Anoi Itam Pulau Weh, Saksi Perang di Pintu Selat Malaka

Benteng Anoi Itam di Desa Ujong Kareung, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang.(Foto IST)

Di atas bukit yang menghadap langsung ke Selat Malaka, Benteng Anoi Itam berdiri dalam diam. Bangunan tua peninggalan Perang Dunia II itu tak hanya menyimpan jejak strategi militer masa lalu, tetapi juga menghadirkan panorama laut luas yang kini dinikmati para wisatawan.

Di Pulau Weh Kota Sabang, terdapat sebuah tempat yang menyatukan sejarah perang dunia dengan panorama laut yang menakjubkan. Di Desa Ujong Kareung, Kecamatan Sukajaya, berdiri sebuah benteng tua yang telah menjadi saksi perjalanan sejarah Sabang sejak masa Perang Dunia II.  Benteng ini berada tidak jauh dari kawasan Pantai Anoi Itam yang terkenal dengan pasir hitamnya yang unik.

Lokasinya berdiri di atas sebuah bukit yang langsung menghadap ke Selat Malaka. Dari titik ini, pengunjung dapat menyaksikan bentangan laut luas yang menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Secara geografis, Sabang memiliki posisi yang sangat strategis. Kota yang terletak di Pulau Weh ini berada di pintu masuk Selat Malaka, jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Samudra Hindia dengan kawasan Asia Timur. Pada masa Perang Dunia II, posisi strategis tersebut menjadikan Sabang sebagai kawasan yang memiliki nilai militer tinggi. Setelah mendarat pada tahun 1942, tentara Jepang membangun berbagai fasilitas pertahanan untuk memperkuat pengawasan di wilayah barat Nusantara.

Tampak Benteng Anoi Itam dari atas dengan latar Pantai (Foto: IST)

Salah satu fasilitas yang dibangun pada masa tersebut adalah Benteng Anoi Itam yang berfungsi sebagai gudang persenjataan sekaligus pos pengamatan untuk memantau aktivitas kapal di Selat Malaka.

Salah seorang pemerhati Sejarah Sabang Zulhelmi Bakri menjelaskan posisi Sabang yang berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka menjadikannya lokasi strategis untuk mengawasi pergerakan kapal sekaligus memperkuat pertahanan laut. Keberadaan benteng tersebut menunjukkan Sabang pernah menjadi bagian dari peta strategi militer dunia pada masa perang.

“Sabang pada masa perang memiliki posisi yang sangat penting karena berada di jalur pelayaran internasional. Benteng Anoi Itam dibangun sebagai fasilitas pertahanan untuk memantau aktivitas kapal di Selat Malaka,” ujarnya beberapa waktu lalu. Ia menambahkan, situs sejarah seperti ini memiliki nilai edukasi yang tinggi bagi generasi muda. “Wisata sejarah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk belajar tentang masa lalu. Benteng ini dapat menjadi ruang belajar terbuka tentang sejarah Sabang,” katanya.

Meriam Peninggalan Jepang.(Foto: IST)

Salah satu daya tarik Benteng Anoi Itam adalah sebuah meriam besi yang masih berdiri kokoh. Meriam ini memiliki panjang sekitar tiga meter dan diyakini merupakan peninggalan asli dari masa pendudukan Jepang. Kini, meriam itu menjadi simbol kuat dari sejarah benteng tersebut. Banyak wisatawan berhenti di depan meriam itu untuk berfoto sekaligus membayangkan bagaimana situasi di tempat ini beberapa dekade lalu ketika perang masih berlangsung. Zulhelmi Bakri menilai keberadaan meriam tersebut menjadi pengingat penting tentang masa lalu Sabang. “Meriam ini adalah bagian dari sejarah perang yang pernah terjadi di kawasan ini. Dari sini kita bisa melihat bagaimana Sabang pernah menjadi titik penting dalam strategi pertahanan laut,” katanya.

Benteng Anoi Itam juga menawarkan panorama alam yang menakjubkan. Warna Air laut biru berpadu dengan langit cerah menciptakan pemandangan yang menenangkan. Deretan kapal nelayan hingga kapal kargo yang melintas di jalur perdagangan internasional sering terlihat dari kejauhan. Salah seorang wisatawan asal Medan Wilda yang berkunjung ke Sabang, mengaku terkesan dengan pemandangan dari atas benteng. “Saya tidak menyangka pemandangannya seindah ini. Dari sini kita bisa melihat laut luas sekali. Tempatnya juga tenang, jadi rasanya nyaman untuk duduk lama menikmati suasana,” ujarnya. Sementara itu, salah seorang pecinta fotografi Rahmat menilai tempat ini unik karena menawarkan perpaduan wisata sejarah dan panorama alam dalam satu landscape.  “Tidak banyak tempat yang bisa menghadirkan pengalaman seperti ini. Biasanya kalau ke Sabang orang fokus ke pantai atau snorkeling, tapi disini kita bisa menikmati pemandangan sekaligus belajar sejarah,” ujarnya.

Spot favorit foto wisatawan.(Foto: IST)

Ketua Pokdarwis Benteng Anoi Itam Suhaimi mengatakan masyarakat sekitar ikut menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan benteng agar tetap nyaman bagi pengunjung.  “Benteng ini bukan hanya situs sejarah, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata di Sabang. Karena itu masyarakat ikut menjaga kebersihan dan lingkungan di sekitar lokasi,” kata Suhaimi. Beberapa warga membuka usaha kecil seperti warung makanan, minuman, hingga tempat istirahat bagi wisatawan yang datang berkunjung. “Kalau wisatawan ramai, tentu masyarakat juga merasakan manfaatnya. Karena itu kita berharap tempat ini terus dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan sejarah,” ujarnya.

Benteng Anoi Itam Dari Udara.(Foto:IST)

Pemerintah Kota Sabang melalui Dinas Pariwisata melihat Benteng Anoi Itam sebagai salah satu potensi wisata sejarah yang penting. Situs ini tidak hanya menyimpan nilai historis tetapi juga memiliki panorama alam yang kuat sebagai daya tarik wisata. Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang Harry Susethia menyebut situs tersebut memiliki nilai Sejarah yang tinggi sekaligus panorama alam yang kuat sebagai daya tarik wisata. “Benteng Anoi Itam merupakan salah satu destinasi wisata sejarah yang menjadi bagian dari identitas Sabang,” ujarnya. Di sisi lain, Dinas Pariwisata Sabang mencatat destinasi ini menjadi salah satu penyumbang retribusi pariwisata kota bersama beberapa objek wisata unggulan lainnya. Penerimaan tersebut berasal dari tiket masuk pengunjung serta retribusi kendaraan yang masuk ke kawasan wisata.  Kontribusi ini menunjukkan keberadaan Benteng Anoi Itam tidak hanya penting sebagai situs sejarah, tetapi juga berperan dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan Pendapatan Asli Daerah.

Kantor Dinas Pariwisata Kota Sabang.(Foto: IST)

Kini, Benteng Anoi Itam kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang ramai dikunjungi wisatawan. Para pengunjung datang tidak hanya untuk melihat bangunan benteng peninggalan Perang Dunia II, tetapi juga untuk menikmati panorama luas Selat Malaka dari atas bukit tempat benteng tersebut berdiri. Hari ini, Benteng Anoi Itam tidak lagi menjadi bagian dari strategi perang. Bangunan beton yang dahulu digunakan untuk menyimpan senjata kini justru menjadi tempat menikmati pemandangan laut serta mempelajari sejarah. Suara dentuman meriam telah lama hilang. Yang tersisa hanyalah desiran angin laut, suara ombak dari kejauhan. Disinilah Sejarah dan alam bertemu. Keberadaan benteng ini sebagai pengingat, Sabang bukan hanya kota wisata bahari tetapi juga wilayah yang menyimpan perjalanan sejarah panjang.  Terlebih lagi, di berbagai sudut Kota Sabang masih dapat ditemukan sejumlah bunker dan goa pertahanan peninggalan tentara Jepang. Keberadaan berbagai situs tersebut membuat Sabang kerap dijuluki sebagai Pulau Seribu Benteng, sebuah julukan yang menggambarkan betapa pentingnya peran Sabang dalam sejarah pertahanan di kawasan barat Nusantara. (ADV)

KABAR LAINNYA
KABAR TERKINI
KABAR FOKUS