
Aroma Ramadan mulai memasuki fase yang berbeda di Kota Sabang. Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, secara khusus mengajak masyarakat untuk tidak melonggarkan barisan ibadah dan memanfaatkan 10 hari kedua Ramadan sebagai momentum mendekatkan diri demi meraih maghfirah atau ampunan Allah SWT. Di tengah perjalanan bulan suci ini, ia mengingatkan bahwa fase pertengahan adalah peluang besar bagi setiap Muslim untuk kembali kepada-Nya melalui tobat yang tulus dan memperbanyak amal saleh.
SABANG,KABARACEHONLINE.COM –Tentunya, setiap orang memahami bahwa Ramadan merupakan bulan penuh keberkahan dan menjadi salah satu bulan yang paling ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia karena terdapat banyak keutamaan di dalamnya. Allah SWT menyediakan berbagai keutamaan ini kepada orang-orang beriman yang memperbanyak ibadah selama bulan Ramadan. Inilah rahmat dan nikmat Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan momen ini dengan meningkatkan intensitas ibadah.
Maka, sudah sepatutnya selaku insan yang beriman dan bertaqwa, rasa syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT atas kesempatan umur panjang sehingga dapat dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun ini. Jika menghitung seberapa banyak nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, niscaya manusia tidak akan pernah mampu menghitungnya. Mereka yang pandai mensyukuri nikmat pasti akan mendapatkan tambahan keberkahan lainnya, namun sebaliknya, bagi yang abai akan nikmat tersebut, niscaya azab yang pedih menjadi pengingatnya.

Ada banyak keutamaan yang hanya eksklusif hadir pada bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, intensitas ibadah seharusnya terus ditingkatkan karena di bulan ini segala amalan akan dilipatgandakan pahalanya. Bagi umat Islam, Ramadan bukan sekadar ritual, melainkan momen untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya sekaligus mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Hal ini selaras dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
“Kini tidak terasa kita sudah melewati 10 hari pertama bulan Ramadan, dan sekarang kita sudah memasuki fase 10 hari kedua Ramadan yang memiliki keutamaan tersendiri,” sebut Zulkifli. Namun, ia menyadari adanya tantangan psikologis dan fisik pada fase ini. 10 hari kedua Ramadan kerap menjadi fase transisi semangat; antara mulai menurunnya gairah karena euforia awal Ramadan sudah berlalu, dengan sedikit sisa tenaga sebelum memasuki fase sepuluh malam terakhir. Kondisi ini menjadikan hari-hari pertengahan puasa sebagai masa yang cukup sulit bagi konsistensi jemaah.
Fenomena ini sering kali terlihat di lapangan, di mana masjid dan musala mulai kehilangan sebagian besar jemaahnya dibandingkan malam-malam awal. Jemaah pada fase ini biasanya mulai kendor semangatnya untuk memperbanyak ibadah. Padahal, bagi siapa pun yang mampu konsisten melewati puasa Ramadan hingga fase kedua ini, insya Allah akan mendapatkan ampunan yang tidak akan diperoleh di bulan-bulan lainnya.

“Melihat pahala dan keutamaan puasa Ramadan yang begitu besar, sangat disayangkan apabila sampai ditinggalkan, jangan sampai kita melewatkan hari-hari penuh ampunan yang telah dijanjikan Allah SWT dengan sia-sia,” tegas Zulkifli. Ia menambahkan bahwa ada beberapa amalan utama yang bisa diandalkan pada fase ini untuk memberikan keuntungan spiritual bagi umat, seperti konsisten melakukan shalat malam, memperbanyak doa, tilawah Al-Qur’an, dan berzikir.
“Pada waktu-waktu inilah saat yang paling tepat untuk memperbanyak doa serta memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan di masa lalu agar diampuni dan dibebaskan dari hukuman,” sebutnya lagi. Sebagaimana jamak diketahui, 10 hari pertama Ramadan adalah rahmat, sepuluh hari kedua adalah ampunan, dan sepuluh hari ketiga adalah pembebasan dari api neraka. Hal tersebut dipertegas dalam hadis riwayat Rasulullah SAW yang berbunyi: “Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.” (HR Al-Baihaqi).
Hingga saat ini, umat Islam di seluruh dunia masih menjalankan ibadah puasa dengan penuh khusyuk. Memasuki 10 hari kedua yang telah dimulai pada Minggu (1/3/2026) ini, masyarakat diajak memburu hikmah pengampunan dosa. Di momen maghfirah ini, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang telah lalu, sesuai sabda Nabi Muhammad SAW: “Siapa yang puasa Ramadan dengan iman dan pengharapan, telah diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang bangun malam Qadar dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari Muslim).

Poin kedua yang ditekankan adalah soal keistiqamahan. Tetap teguh dalam beribadah di pertengahan Ramadan merupakan sebuah kenikmatan iman yang tidak semua orang mampu mencapainya. Wujud dari keistiqamahan itu adalah mereka yang tetap menjalani puasa secara lengkap meski raga mulai merasa lelah. Ketiga, janji Allah SWT akan pahala yang berlipat ganda bagi setiap kebaikan yang dilakukan. “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku’.” Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Selanjutnya, keutamaan keempat adalah terbukanya pintu surga, di mana Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Ramadan adalah waktu istimewa di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Kelima adalah momentum dikabulkannya doa. Mengingat 10 hari kedua adalah fase ampunan, maka memperbanyak amalan sunah seperti shalat malam dan tadarus menjadi jembatan yang paling tepat untuk memohon ampun. Terakhir, yang keenam, Allah SWT akan senantiasa memberikan kemudahan dan kekuatan bagi mereka yang ikhlas menjalankan ibadah hingga mampu menyelesaikan seluruh rangkaian Ramadan hingga hari terakhir. (ADV)











