WALHI Aceh Minta Pengawasan Terhadap Pembangunan Jalan Tembus Proyek Multiyeras Diperketat

filename - kabaracehonline.com

KABARACEH, BANDA ACEH: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menemukan ada transaksi jual beli kayu pada pembangunan jalan Trumon – Batas Aceh Singkil yang masuk dalam skema multiyears.

Berdasarkan laporan dari masyarakat, ditemukan kayu-kayu yang dipotong itu diangkut ke Medan yang diduga diperjualbelikan. Kayu yang dipotong itu berukuran 2 meter hingga 4 meter yang dikeluarkan menggunakan alat berat (beko). Kayu tersebut diperkirakan berdiameter 30 centimeter hingga 50 centimeter.

Read More

“Ini kejadiannya berada di kilometer 41, ada dua beko di sana yang mengangkut kayu tersebut,” kata Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, Selasa (26/1/2022).

Kata Om Sol, sebutan akrab Ahmad Shalihin, berdasarkan peta ruas jalan prioritas pembangunan jalan tembus yang masuk skema tahun jamak, kejadian temuan kayu yang diduga diangkut ke Medan tersebut berada di P.045.12.

“Laporan dari masyarakat kayu itu diangkut pada malam hari,” jelasnya. WALHI Aceh meminta Pemerintah Aceh untuk melakukan pengawasan terhadap pembangunan jalan tembus yang masuk dalam skema multiyears. Terutama jalan tembus Trumon – Batas Aceh Singkil yang melintasi area Konservasi Rawa Singkil.

Om Sol mengaku khawatir pembangunan jalan tersebut yang melintasi area konservasi dapat mengganggu kanekaragaman hayati, terutama satwa kunci Harimau, Gajah, Orang Utan dan Badak. Apa lagi saat ini keberadaan satwa tersebut semakin kritis dan konflik satwa dan perdagangan ilegal masih tinggi di Aceh.

Kondisi ini tentunya, sebut Om Sol akan semakin menyuburkan terjadi konflik dan kematian satwa dilindungi, maka pemerintah terutama KPH VI harus pro aktif melakukan pengawasan. Di area konservasi yang melintasi jalan tembus tersebut juga terdapat endemik anggrek pinsil (Vanda hookeriana) dan kantong semar (Genus nepenthe). Bila dibiarkan tanpa ada perlindungan, dikhawatirkan tanaman langka ini juga bakal punah. (REL)

Related posts