Polemik Penanganan Sampah di Aceh Tengah, Shabela Minta Warga Blang Kekumur Restui Pembangunan TPA

filename - kabaracehonline.com
Tempat Pembuangan Sampah di Wer Tetemi Aceh Tengah telah over load dan tak sanggup lagi menampung sampah

KABARACEHONLINE, ACEH TENGAH:  Masalah sampah telah menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh Kabupaten Aceh Tengah, betapa tidak Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Mulie Jadi di Kecamatan Silihnara,yang selama ini menampung sampah diwilayah itu sudah over load alias penuh. Tidak ada pilihan lain selain untuk mencari tempat baru agar sampah terangkut dan tidak menumpuk.

Masalahnya dimana tempatnya? ini menjadi persoalan pelik yang harus segera dicarikan solusi. Salah satu calon lokasi adalah di Blang Kekumur Kecamatan Celala. Tak semulus yang direncanakan, ada penolakan dari masyarakat setempat, karena khawatir berbagai dampak dari kehadiran tumpukan sampah di daerah mereka.

Read More

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar berusaha meyakinkan masyarakat setempat dan memastikan Tempat Pengolahan Akhir (TPA) sampah di Blang Kekumur tidak seperti yang dipikiran warga.

“Saya pastikan di Blang Kekumur akan ada alat pengolahan sampah hasil kerja sama dengan perusahaan Malaysia, alat itu saat ini sedang berada di Riau” ujar Shabela saat Musyawarah menjaring solusi terkait penanganan sampah di gedung oproom Sekdakab Aceh Tengah, Senin (15/6/2020).

Pertemuan ini dihadiri oleh Reje Kampung di Aceh Tengah terutama Reje Kampung yang ada di Kecamatan Silihnara dan Celala, Camat dari dua kecamatan, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup, Dinas Perkim, PUPR, asisten. Sejumah LSM dan aktivis lingkungan juga menghadiri kegiatan ini.

Artinya, terang Shabela, sampah bukan hanya dibuang begitu saja, sesuai dengan namanya Tempat Pengolahan Akhir (TPA) nantinya akan ada aktivitas pengolahan sampah dan dapat menjadi pendapatan kampung setempat.

Ia menyebutkan masalah sampah tidak akan selesai jika tidak ada alternative untuk mengatasinya. Caranya dengan konsep 3R (reduce, reuse dan recycle) yakni;batasan sampah, pakai ulang dan daur ulang.

Dikejar waktu, Tempat Pembuangan Sampah di Kampung Mulie Jadi (Wer Tetemi) selain sudah tak sanggup menampung sampah lagi, juga sesuai perjanjian akan berakhir pada Juli 2020 sejak dari 2016.

Penempatan Calon TPA di Blang Kekumur menurut Shabela adalah paling tepat, karena survey telah dilakukan. Jika disetujui, akan dibuka akses jalan sementara menuju lokasi tersebut.

Shabela berharap, mendapatkan restu dari Reje dan masyarakat setempat. Jika tetap ditolak, ia meminta usulan dari Reje Kampung di Aceh Tengah untuk solusi alternatif.

” Jika masyarakat masih menolak, berarti kami harus mencari alternatif sementara kemana sampah ini akan diolah, apakah di Bur Lintang. Kami juga meminta usulan dari kepala desa lainnya dimana lokasi yang cocok untuk pengolahan sampah,” pinta Shabela. Ia berharap ada desa yang menawarkan diri untuk tempat pengolahan sampah.

Mesin Pengolahan Sampah yang direncanakan akan ditempatkan di Blang Kekumur, kata Shabela, saat ini sedang menunggu bukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Riau.

“Kapan nanti dibuka, baru dilanjutkan proses pengirimannya” ujar Shabela.

Pengolahan sampah ini yang dimaksud Shabela, salah satunya akan menghasilkan pupuk kompos dan pupuk cair.

Di masa Shabela, pemerintahan sendiri sebenarnya telah berupaya mengandeng berbagai pihak untuk mengatasi sampah ini, selain dengan perusahaan dari Malaysia, juga dengan salah satu perusahaan dari Inggris. Sayangnya, Pandemi Covid-19 membuat “kerjasama” ini tertunda.

Sebelumnya sebut Shabela, di 2019 pihaknya pernah mengupayakan pengadaan fasilitas pengolah sampah senilai Rp2,5 milyar namun gagal.

Kalau semua ini tak berjalan, Shabela menyebutkan pihaknya berinisiatif membeli alat pengolah sampah sendiri dan nantinya menjadi aset dinas terkait.

Penanganan sampah di Aceh Tengah mendesak dicarikan solusi tak hanya pemerintah namun seluruh elemen masyarakat di kabupaten penghasil kopi ini. Jika semua rencana “mandek” bisa dibayangkan tumpukan sampah akan menggunung diberbagai sudut jika sampah tak terangkut. Terutama, sampah yang berada di Kota Takengon. (Arsadi Laksamana)


Related posts